Oooh Tidak, Kucingku Pipisnya Berdarah

No comment 3266 views

Oleh : drh. Widhi Vinandhita
ditulis untuk web drhvinan.com

Beberapa kasus yang masih sering dijumpai pada kucing adalah masalah urinari yaitu Feline Urological Syndrome (FUS) atau Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD). Salah satu contohnya adalah Miko. Ia datang dalam kondisi lemah dan kencing berdarah. Sebelumnya juga sempat muntah. Dari pemeriksaan fisik menunjukkan kantong kemih / vesica urinarynya telah membesar dan keras. Miko sudah dikateter dan telah di bawa pulang untuk rawat jalan oleh pemiliknya.

Feline Urological Syndrome, disebut sindroma karena didiagnosa berdasarkan sekelompok gejala yang muncul terpisah maupun kombinasi. Penyebab FUS antara lain ;
1. Urolithiasis yaitu adanya batu pada saluran kemih atau kantung kemih.
2. Urethral blockage adalah sumbatan pada uretra akibat kristalisasi mineral dan iritasi pada kantung kemih. Jika sudah terjadi sumbatan , maka harus segera dibawa ke dokter untuk ditangani, jika tidak ini akan sangat berbahaya terhadap kucing tersebut.
3. Kebiasaan pakan
4. Tumor
5. Idiopatic Cystitis yaitu peradangan pada kantung kemih tanpa sebab yang pasti. Hal ini sering menyebabkan akumulasi darah, mukus dan sel-sel debris pada vesica urinaria .
6. Infeksi. Darah, mukus dan sel-sel debris akibat peradangan jaringan, merupakan lingkungan yang ideal untuk infeksi bakterial.
Gejala yang tampak antara lain ; kelemahan, susah buang air kecil, polyuria (sering buang air kecil tapi sedikit sedikit), nafsu makan menurun, urin bewarna merah, buang air kecil tidak di tempat biasanya, kesakitan saat urinasi dan terlihat sering menjilati daerah alat kelamin.
Kucing yang beresiko terkena FUS antara lain dipengaruhi oleh pola jenis pakan, kebiasaan kurang minum, jenis kelamin, usia, serta kebersihan litter box. FUS dapat menyerang segala usia tapi yang paling sering adalah 1-6 tahun. Sedangkan jenis kelamin jantan lebih sering terkena FUS karena bentuk anatomi salurannya yang panjang dan uretra yang sempit. Kucing yang gemuk dan malas bergerak juga memiliki resiko.
Penanganan yang dilakukan adalah dengan kateterisasi untuk mengurangi tekanan kantung kemih dan mencegah keracunan ureum akibat urea dalam urin yang tidak dapat dikeluarkan. Selain itu melakukan pengobatan yang teratur, selalu kontrol pada waktunya dan diet pakan khusus masalah urinari juga tidak kalah pentingnya.

Berikut adalah gambar Miko yang sudah dikateter dan sedang dikeluarkan urinnya.

author